Ole!!

Assalamu alaikum

Mmhh.. buku adalah sumber ilmu, begitu kata guru saya waktu TK (mang saya TK??). Tapi menurut saya buku bisa jg ngambil inspirasi, tempat ngakak. Contoh, buku nya Raditya Dika.
Saya pernah baca buku Kambing Jantan waktu SMP. Saya dikasi pinjam sama kace ku. “baca mko, bagus, lucu”, katanya promosi. Tapi sampai kepala saya hampir habis, sampai kaki hampir kebongkar, sampai tamatin itu buku (sebenarnya tidak), saya ndak pernah ngambil hikmah. Satu-satunya hikmah yg saya ambil, kalo minjam sesuatu harus dikembalikan.

Tapi keadaan berubah, kepala ku pun membesar, mengembang, hampir memuai. Minggu lalu iseng-iseng saya curi buku nya adek kelas (sebenarnya bahasa lembutnya, ngambil, nanti pas ngembaliin baru bilang). Judul nya Babi Ngesot, Datang tak diundang, Pulang tak berkutang, yang tidak lain, buku nya si Raditya Dika.

Semenjak baca itu buku, pandangan hidup ku lebih lebar (mang jidad). Unik nya bukan sekedar permainan kayak lagunya Gita Gutawa.
Dengan hasrat ingin meminjam buku di Gramedia yang menggebu-gebu, saya akhirnya memutuskan untuk ke Mall Panakukkang. Tapi setelah saya diskusikan dengan dengkulku, saya lebih memilih membeli daripada pulang dengan otak disita sama Gramedia.

Tentunya, sebagai anak asrama yang baik, saya berusaha menghemat uang. Salah satunya dengan menghemat biaya transportasi. Untuk itu saya dengan segenap rayuan pulau nangka berusaha menjaring korban yang agak bersalah. Dalih dari penjebakan kali ini yaitu makan di Pizza Hut.
Setelah bekerja keras selama kurang lebih 4 menit, lebih dari setengah orang pun terjaring. Yaitu Atong, Pa’i.
Pas habis Maghrib kami terlebih dulu berdoa agar uang kami ndak dicuri (sama penjual2 di MP). Tapi kejutan tiba-tiba terjadi di samping ku. Beberapa kompi anak busung lapar ingin bergabung. Di antaranya, Arya, Adek Arya, Ikram, Sibga dan Arafah.
Setelah berpikir dengan otak masing-masing dan melakukan musyawarah yang diakhiri dengan voting, kami memilih taksi sebagai tempat duduk berjalan menuju MP.
Regu I dihuni oleh Pai’I, Ikram, dan Arya. Dan Regu II dihuni oleh saya, Adek Arya, Atong, Sibga, dan Arafah.

Karena saya melihat muka supir taksi yang agak sangar, saya berusaha membuka gerbang silaturahmi.

Berbagai usaha dan upaya pun berusaha saya kerahkan.
Saat “Roger-roger” si supir mengatakan, “ya, satu mobil di Labuang Baji..bla bla bla”. Saya langsung menggaris bawahi kata “Labuang Baji”. Memang dalam otak saya yang kayak otak sayur ini, saya belum tahu yang mana Labuang Baji dan yang mana RS Dadi’ (sebuah rumah sakit yang terkenal akan keseraman orang agak kurang warasnya).
“pak apa bedanya RS Labuang Baji sama RS Dadi’”, Tanya saya dengan nada orang baru masuk kota.
“oh, sama ji itu”, jawabnya mantap dengan logat khas Mangkasa’.
Ya, setelah itu pembicaraan mulai berkembang berkat adanya kerja sama dari para pembicara handal asrama.

Kira-kira alur pembicaraannya seperti ini :
RS Dadi’ jadi Caleg Gagal jadi Pemilu 2009 jadi Adeknya si supir yang agak ngamuk habis kalah Pemilu jadi koalisi partai jadi Capres dan Cawapres.

Hanya dalam beberapa menit kami para pembicara handal asrama dan supir taksi bisa menghiasi satu halaman full Koran Fajar dengan Topik Rumah Sakit Dadi’.

Akhirnya setelah puas beropini puas kami pun sampai di pusat pergahulan anak Makassar, MP.
Kami lalu bertemu dengan Regu I di depan Bread Talk. Setelah itu, terjadi pergulatan yang agak sengit tentang First Destination. Beberapa orang berargumen kita sebaiknya pergi makan dulu, dengan dalih agar bisa memperkirakan seberapa dalam kantong bolong. Tapi dengan gaya sok pemimpin saya bersikeras dengan beberapa koalisi, agar kita ke Gramedia dlu. Ya, iyalah, perut masih kenyang, dan tak lupa ke Gramedia kan tujuan utama.

Karena kegigi-kunian-han saya css, argument kami pun diratifikasi (disahkan kalo ndak salah, pelajran Pkn).
Setelah itu saya dan Ikram yang memiliki keinginan sama mencari bukunya Raditya Dika. Setelah berhasil dengan sukses kami pun keluar dengan organ tubuh yang masih lengkap.

Karena hasrat makan para “hunter” asrama yang begitu menggebu-gebu, kami berinisiatif berangkat menuju tempat pengisian energy, Pizza Hut.
Tapi, nasib berkata lain. Berhubung waktu itu malam minggu, jadi kedai-kedai makan anak gahul pun ramai. Di Pizza Hut ketika itu Waiting List.
Terlihat muka dari beberapa sahabat mulai menguning akibat penykit kuti. Karena kecintaan kami akan demokrasi, kami kembali melakukan musyawarah yang kembali diakhiri dengan voting (biasa lah, MPR saja begitu). Dan tujuan selanjutnya yaitu D’Cost yang bermotokan “Kualitas Bintang Lima Harga Kaki Lima”. Dengan kelucuan yang khas anak asrama, kami berhasil menjahili beberapa orang yang sial.

Saya langsung simpatik dengan tempat ini. Harga Es Teh manis 500rp. Dengan otak hemat, saya langsung berpikir habis main bola atau istirahat sekolah langsung minum Es Teh Manis-nya D’Cost, tapi itu semua ternyata hanya mimpi.

Setelah puas mengisi perut yang sudah dangkal, kami kembali melanjutkan perjalanan.
Dengan sifat kekanak-kanakan yang tiada duanya, kami memutuskan untuk bermain di Amazon.
Di sana, kami nemuin beberapa pasangan suami istri yang lagi melakukan permainan, atau lebih tepat melakukan games. Games itu intinya, Koin. Jadi kita berusaha untuk menggluarkan koin-koin yang ada di dalam mesin games itu.

Terliahat disana sebuah pasangan suami istri yang kayak nya tengah di atas awan. Mereka punya koin sekantong!!!!, saya ulangi mereka punya koin sekantong!!!!
Kami dengan berbagai niat jahat berdiri disamping sang suami yang tengah berjuang. Istrinya si hanya duduk di dekat sang suami. Kerja si istri sangatlah mudah, kalo si suami berhasil, dia cuma ngambil koin-koinnya dan taruh ke kantong. Very Simple. Suatu waktu, terdengar suarau, criingg, cringg,, cringg,, yang menandakan sang suami berhasil. Saya kayak nya mau ambil semua koin-koin itu dan pakai untuk main, tapi saya urungkan karena nanti keburu ketangkap.

Di tengah suara-suara criingg,, cringgg itu ada bunyi yang lain yaitu, criccssttt, criccsstt, yang menandakan terjadi geesekan. Dengan insting yang kuat, saya lalu mengalihkan pandangan ke bawah. Ternyata ada sebuah koin yang menggelinding. Dengan hati kayak bawang merah saya berniat ambil itu koin. Tapi tiba-tiba si istri dengan sigap, gesit, irit berhasil mengambil koin itu. Padahal itu kan Cuma satu koin..

Mungkin dalam hati si istri, “satu koin kan bisa buat beli Susu Ideal untuk sarapan besok” (harga koin 10ribu dapat 8 jadi kalo dibagi, dapat???)
Saya Cuma bisa berbibir bus.
Karena merasa Amazon adalah tempat anak-anak (padahal koin sama uang nyaris 0) kami berinisiatif untuk mengakhiri ekspedisi singkat di malam yang ramai ini.
Kami sempat berfoto dengan gaya khas binatang.
Setelah berjalan selama 14 detik, kami melihat sebuah botol nganggur di lantai tanpa majikan. Sebenarnya kami ingin berteriak “Permisi!!! Siapa yang punya ini botol?? Kasian tidak ada yang asu..”

Tapi kami sadar botol adalah benda tak hidup. Tiba-tiba ada kilatan lampu yang mengingtkan kami dengan video-video aksi bola, Joga Bonito. Dengan didorong dengan kekuatan kaki yang tak tertandingi, kami akhirnya berlari-lari menendang bola kayak ada layangan putus. Mungkin saja bisa menang klo masuk Narsis.Tv, pikir kami.
Setelah capek, kami memutus kan untuk beranjak dari MP, berhubung juga karena kayaknya kita sudah diusir secara halus, dengan mematikan lampu satu persatu.
Kami pun pulang dengan sisa-sisa hasil respirasi tubuh kami. Kami lalu mengambil taksi untuk berangkat ke asrama tercintah.

Sesampai nya di area sekolah, keadaan memutuskan kami menginap di Mesjid sekolah. Penderitaan tak hanya sampai di situ. Ketika dengan kemauan dan kemampuan yang cukup untuk tidur, tiba-tiba ada yang menghadang. Malam itu kayak nya TNN AU (Tentara Nasional Nyamuk Angkatan Udara) sudah membeli pesawat sukoi baru lengkap dengan persenjataan modern. Sepertinya ada sekitar 40 kompi pasukan nyamuk mnyergap. Setelah berpikir dengan otak yang agak sedikit oleng, saya bangkit dan berkelakar sampai mabok.
Akhirnya waktu yang kami nantikan datang. Waktu Sholat Subuh. berhubung kami umat beragama yang baik kami pun sholat berjamaah. Tak hanya itu, waktu sholat shubuh juga menandakan kedatangan K’ Kipli, yang turut member isyarat terbukanya Pintu Gerbang Kemerdekaan, Pintu Asrama.
Setelah itu, kami pun masuk ke asrama dengan bentol-bentol yang menyebar ke sekujur tubuh dan tidur samapi puas.

 

0 komentar:

  • Komentar

    Name :
    Web URL :
    Message :
    :) :( :D :p :(( :)) :x