Momen Tiada Kira
Assalamu alaikum
*maaf, cerita ini banyak mengandung kesedihan. Jadi yang punya penyakit panu, atau ingusan, diharapkan jangan terlalu mendalami ceritanya.
kali ini saya akan awali dengan pertanyaan.
Apakah kalian melihat Boots?
yeahh.. Hidup Dora The Explorer
Siapa yang sering nonton film? (Jawablah: Ya.....)
Film jenis apakah itu? (Jawablah: Kesedihan)
Kesedihan bagaimana kah itu? (Jawablah: Perpisahan)
*maaf, dialog ini sudah diatur supaya agak lebih nyambung
Ya, perpisahan. Itulah yang baru saja saya alami, rasakan dan dengarkan (dengan efek musik kuat kita bersinar, lho!?)
Pasti kalian penasaran....
beginilah ceritanya...
Suatu hari di dunia tabi...
saya bangun seperti biasanya dari tidur yang sangat nyenyak (waktu malam minum obat Lelap)
dengan wajah bantal saya berusaha menganalisis apa yang telah mengganggu tidur ku. oh ternyata, Miniatur Danau toba ber volume 3cm kubik telah terbentuk di atas bantal yang bermotif koboi. Dengan sangat terpaksa, saya berusaha menggerakkan semua anggota badan saya dengan memaksimalkan kerja dari otak kecil saya (yeahhh... hidup biologi).
Setelah bangkit dari alam bawah sadar, saya mencoba menilik semua barang2 ku, siapa tau ada yang hilang (sandal merk Samoa berwarna merah). Di samping meja belajar yang sudah usang (ndak pernah dipake) terlihat beberapa dos yang berisi buku2 dan kantong pakaian yang berisi makanan, ya pakaian lahhh!!! ahhh... terliti dong!!! plis dong ah...
Ya, saya diingatkan oleh semua barang tersebut, bahwa hari ini bukanlah hari seperti biasanya.
Ya, hari yang akan menentukan semua alur hidup dan setting, dan tokoh utama (ndak nyambung) ku. AAhh.... kenapa hari ini harus tibbaaa!!! (dengan efek petir yang diikuti turunnya batu Ponari).
hari itu adalah Hari Dimana Saya Akan Keluar Asrama
ngahahah, eh salah, hikz.. hikzz
Setelah 6 menit 17 detik memikirkan hal tersebut, saya mulai memberikan motivasi dan reparasi (mang sofa??) pada diri ini.
Karena hari ini tidak lah biasa saya juga banyak melakukan hal yang tidak biasa. Contohnya saja sikat gigi, mandi, pake baju (hari biasanya telanjang ya mas?).
Setelah itu saya membereskan semua sarana dan prasarana yang saya punya, agar nanti jikalau tiba saatnya, semua akan baik2 saja.
Setela semua stabil, saya berinisiatif untuk sarapan ala anak asrama. Apakah itu? roti.
Karena merasa masih memiliki roti merk Dewi rasa Coklat yang baru dikirimi kemarin malamnya, saya ndak jadi mengambil roti yang berceceran di kamar orang.
Dengan menikmati roti milik sendiri, saya mendengar lagu Kuat Kita Bersinar -nya SID dari laptop nya Arya. Akhirnya setelah segala sesuatu nya mantap saya berkeinginan untuk menghibur diri dengan main fb. Tak terasa 4menit telah berlalu tanpa ter-konek-kan dengan Internet. Karena pori-pori tubuh telah terbuka dan telah bersiap2 mengekskresikan keringat saya kembali ke kamar.
Saya kembali bersedih.
Sedih.
Oh, sedih.
Tak terasa saya tertidur sampai jam telah menunjukkan pukul setengah empat sore.
Dengan jiwa keatletan, saya sore adalah waktu dmana saya bisa mengmbangkan skill dalam berolahraga. Dan sore itu olah raga yang terpilih adalah Sepak Bola.
Ketika bermain, ada sesuatu yang juga terjadi tidak biasa.
APakah itu? SAYA MENCETAK 1Gol.
nagahhaha
nagahahah
ngahahah
ngahahaha
Karena semua anak asrama adalah agamawan yang sangat tekun kami menyadari bahwa waktu habis nya yaitu sebelum maghrib. Tapi bola berkata lain. WAktu itu semua tidak menyadari waktu, dan terus bermain dengan semangat kedaerahan yang tinggi.
Memang, hari itu bukanlah hari biasa. Hal spektakuler terjadi.
Tiba-tiba dari kejauhan sesosok manusia berpakaian biru gelap berjalan dengan gagahnya. Dengan mimik khas manusia, dia berjalan bagaikan BAMPOL yang tengah dirudung kesedihan.
Setelah berjalan sekitar 3 meter dia berhenti dengan memperhatikan rambu2 yang berlaku.
Dia lalu mengambil sesuatu dari balik seragam nya. Dan ternyata itu adalah peluit, maksud saya, sempritan.
Karena terinspirasi wasit botak Collina, tangan kirinya lalu dikembangkan bagaikan sayap, dan tangan kanannya mengarahkan peluit pas ke arah hidungnya, eh mulutnya.
Setelah menghisap udara sekitar 4liter, dia meniup peluit tersebut sekeras-kerasnya.
Saking kerasnya, saya sempat terlempar sejauh 0,001 mm dari tempat semula. Dengan senyum yang dibuat terkesan keren, dia melambai ke arah kami, tanda waktu bermain telah usai.
Kami pun berlari ke asrama, agar tak terliaht oleh Ibu Tercinta, Bu Ipa.
Tapi nasib berkata lain, Bu Ipa dengan tegas berdiri di teras asrama.
Tapi untunglah hari itu memang bukan hari biasa. Dengan gaya pelari khas pelari Nigeria, saya mencoba menembus dinding ketakutan yang dibentuk Bu Ipa. Yah, memang Nigeria lah yang terhebat. Saya berhasil.
Setelah itu, saya minum, berkelakar sebentar, mandi, sholat, dan makan, lalu kelakar lagi.
Ditengah-tengah kelakar, suara HP ku menyadarkan aku bahwa sudah tiba saat yang akan memindahkan sedikit jalur hidupku. Ya, K' Chandra, seseorang, yang akan menjemput ku, telah mengultimatum bahwa dia akan segera ke asrama.
Saya pun sempat tertegun.
Karena merasa ndak bisa mengangkut lemari baju ku sendirian, saya dengan nada agak ditinggikan berkata,
"Oi, bantu dlue" bujuk ku kepada adek kelas
"mmhh, ndak mau ja" kata salah seorang dari mereka. Dengan mata yang agak disiniskan dan tangan yang mulai dikepalkan, saya kembali menatap mereka
"iya paeng, ayo teman2.."mereka mulai bergerak bagaikan hewan-hewan di film Madagascar
Satu persatu barang ku pun diangkut ke bawah.
Inilah saat yang saat mengharukan, dari segala skrip jalur hidup ku.
Pamit.
Ya, sepertinya semua orang bersedih akan kepergian si gendut-tukang makan-jayus-ketawa ini.
Sempat saya meneteskan air kesedihan dari hidung (ingus). Ya, saya sempat hampir akan menangis. Tapi, karena ke-stay cool-an yang telah dilatih selama 2 bulan saya berhasil mengalahkan rasa itu. Bila Rasaku ini Rasamu.
Saya pun pamit sama Ibu Tercinta, Bu Ipa. Dan Tak Lupa sama teman ku Arafah dan si Pioneer, Atong yang dari 4 hari lalu duduk di teras menunggu mangga masak.
Menurut Informasi yang saya dapat siih, dia jg sedih.
Saya pun pergi dengan sekelompok barang busuk yang tak lain baju ku...
bye..bye...
0 komentar:
Posting Komentar